SMA Plus PGRI Cibinong Gelar Rapat Evaluasi dan Pembagian Tugas, Siapkan Transformasi Pendidikan Hadapi Era AI

CIBINONG, PEZATNEWS – SMA Plus PGRI Cibinong mengawali Tahun Pelajaran 2026–2027 dengan menggelar Rapat Evaluasi Tahun Ajaran 2025–2026 dan Pembagian Tugas bagi seluruh guru serta tenaga kependidikan. Kegiatan yang berlangsung Senin (13/7) itu menjadi momentum bagi sekolah untuk mengevaluasi kinerja selama satu tahun terakhir sekaligus menyusun strategi menghadapi tantangan pendidikan di era transformasi digital.

Dalam sambutan pembuka, Kepala SMA Plus PGRI Cibinong Reguler, Afra Fitriani, S.S, M.Pd,Gr, mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan menjadikan evaluasi sebagai budaya kerja yang membangun, bukan sekadar agenda tahunan.

“Evaluasi harus menjadi bahan refleksi agar apa yang sudah baik dapat dipertahankan dan yang masih kurang dapat diperbaiki bersama,” ujarnya.

Menurut Afra, rapat tersebut menjadi forum penting untuk menyampaikan berbagai hasil evaluasi sekolah, mulai dari kehadiran guru, hasil kuesioner siswa terhadap proses pembelajaran, capaian program, hingga pemberian apresiasi kepada guru, mata pelajaran, Student Day, dan karyawan terbaik.

Ia berharap seluruh warga sekolah dapat menjadikan hasil evaluasi sebagai motivasi untuk meningkatkan profesionalisme dan kualitas pelayanan pendidikan pada tahun ajaran yang baru.

Selain evaluasi, rapat juga menjadi ajang penyampaian pembagian tugas kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan.

Afra menegaskan bahwa setiap amanah yang diberikan merupakan bentuk kepercayaan pimpinan kepada seluruh warga sekolah.

“Setiap tugas memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan sekolah. Karena itu, mari kita jalankan dengan penuh tanggung jawab dan semangat kolaborasi,” katanya.

Evaluasi Bukan Mencari Kesalahan

Sementara itu, Kepala SMA Plus PGRI Cibinong, Dr. Iwan Cakrayana, S.T, S. Pd, M.Si Gr, menekankan bahwa evaluasi merupakan bagian dari budaya belajar yang harus dimiliki setiap organisasi pendidikan.

Menurutnya, sekolah yang mampu berkembang adalah sekolah yang mau belajar dari pengalaman, bukan sekolah yang merasa selalu benar.

“Evaluasi bukan mencari siapa yang salah, tetapi mencari apa yang bisa diperbaiki. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang terus belajar dari setiap pengalaman,” ujar Iwan.

Ia menjelaskan, terdapat empat hal yang menjadi fokus evaluasi, yakni mengidentifikasi program yang berhasil, mengevaluasi target yang belum tercapai, mencari penyebab keberhasilan maupun kendala yang dihadapi, serta merumuskan langkah perbaikan pada tahun ajaran berikutnya.

Guru Dituntut Adaptif Menghadapi Perkembangan AI

Dalam arahannya, Iwan juga menyoroti pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), yang mulai mengubah berbagai sektor pekerjaan, termasuk dunia pendidikan.

Menurutnya, guru perlu terus meningkatkan kompetensi agar pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Saat ini, berbagai platform berbasis AI seperti ChatGPT, Gamma, Claude, hingga aplikasi pembelajaran lainnya telah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan modern.

Karena itu, guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memahami perkembangan teknologi yang akan dihadapi peserta didik di masa depan.

“Kalau kita tidak mengikuti perkembangan teknologi, kita akan tertinggal dari peserta didik kita sendiri,” kata Iwan.

Ia menambahkan, kompetensi masa depan tidak lagi sama dengan kompetensi beberapa tahun lalu. Oleh sebab itu, sekolah perlu menghadirkan pembelajaran yang mampu membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta literasi digital.

Persaingan Sekolah Semakin Ketat

Selain perkembangan teknologi, Iwan juga menyoroti meningkatnya persaingan antar satuan pendidikan.

Menurutnya, masyarakat kini semakin selektif dalam memilih sekolah. Orang tua tidak hanya mempertimbangkan fasilitas, tetapi juga kualitas layanan, karakter lulusan, program unggulan, serta reputasi sekolah. Karena itu, setiap sekolah dituntut memiliki identitas yang kuat.

SMA Plus PGRI Cibinong, lanjutnya, terus mengembangkan berbagai program unggulan, seperti Student Day dengan puluhan pilihan keterampilan, program bahasa asing, penguatan karakter, pengembangan teknologi informasi, hingga pembinaan minat dan bakat siswa.

Berbagai program tersebut diharapkan menjadi nilai tambah sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

Memahami Karakter Generasi Z dan Alpha

Iwan juga mengingatkan pentingnya memahami karakter peserta didik yang saat ini didominasi oleh Generasi Z dan Generasi Alpha.

Menurutnya, kedua generasi tersebut memiliki karakter, pola pikir, serta gaya belajar yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Karena itu, pendekatan pembelajaran harus lebih fleksibel, komunikatif, dan memanfaatkan teknologi agar proses belajar menjadi lebih efektif.

“Sebagai pendidik, kita harus terus belajar memahami karakter peserta didik agar mampu mendampingi mereka menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Bangun Budaya Kolaborasi dan Inovasi

Pada Tahun Pelajaran 2026–2027, SMA Plus PGRI Cibinong menetapkan empat fokus utama pengembangan sekolah, yaitu meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik, memperkuat pendidikan karakter, mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

Untuk mewujudkan target tersebut, Iwan mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan memperkuat budaya kolaborasi.

Menurutnya, keberhasilan sekolah tidak ditentukan oleh satu orang, melainkan hasil kerja bersama seluruh warga sekolah yang memiliki visi dan tujuan yang sama.

“Tidak ada keberhasilan yang dicapai sendirian. Mari kita membangun budaya kerja yang kompak, terus berinovasi, dan memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik,” katanya.

Ia berharap Tahun Pelajaran 2026–2027 menjadi momentum lahirnya berbagai inovasi baru sehingga SMA Plus PGRI Cibinong semakin dikenal sebagai sekolah yang unggul dalam prestasi, kuat dalam pendidikan karakter, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mencetak lulusan yang siap menghadapi dunia yang terus berubah. (Studentday Jurnalistik)

Leave a Reply